Usaha Ulama’ dalam Menanggulangi Hadis Palsu
Upaya ulama dalam menjaga dan memelihara hadis dari pemalsuan dilakukan secara sungguh-sungguh melalui penelitian dari sejak masa sahabat sampai selesainya perhimpunan hadis ke dalam karya-karya besar mereka. Upaya-upaya yang ditempuh para ulama dalam menjaga hadis Nabi saw. adalah sebagai berikut:[1]
1. Berpegang pada keshahihan sanad
Para sahabat, tabi’in dan para ulama sangat ketat dalam menuntut isnad dari para perawi dan mereka selalu terapkan dalam meriwayatkan hadis. Keketatan menuntut isnad tidak hanya berlaku di kalangan ulama dan pencari hadis. Tetapi isnad telah menjadi hal umum yang diterima, baik di kalangan ulama maupun kalangan awam.[2]
2. Meningkatkan semangat ilmiah dan ketelitian dalam meriwayatkan hadis
Semangat ilmiah pada masa sahabat dan tabi’in dalam upaya memelihara kemurnian hadis sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas mereka baik dalam menuntut hadis maupun dengan mengadakan perjalanan ilmiah dalam menyebarluaskan hadis ke berbagai daerah. Demikian pula, apabila sebagian tabi’in mendengar suatu hadis dari selain sahabat, maka mereka bergegas untuk menemui sahabat yang masih ada secara langsung untuk pengecekan dan pengukuhan keabsahan yang mereka dengar. Sama halnya yang dilakukan tabi’in kecil terhadap tabi’in besar dan seterusnya.
3. Memerangi pendusta dan tukang cerita
Sebagian ulama memerangi para pendusta dan tukang cerita dengan melarang menyebarkan hadis palsu, serta menjelaskan keadaan mereka kepada masyarakat. Para ulama juga melarang masyarakat mendekati mereka. Semua ahli ilmu juga menjelaskan kepada murid-murid mereka dan mengingatkan agar para murid tidak meriwayatkan khabar dari para pendusta itu.
4. Menjelaskan hal ihwal para perawi
Seorang ahli hadis harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang para periwayat hadis, agar ia dapat menilai kejujuran dan kekuatan hafalannya, sabagai pegangan dalam membedakan yang shahih dari yang palsu dan yang baik dari yang buruk. Justru itu para ahli hadis mengadakan penelitian tentang kehidupan para periwayat dan mengenal hal-ihwal mereka. Mereka melakukan kritik karena Allah samata, bukan karena rasa takut kepada seseorang.[3]
5. Meletakkan kaidah- kaidah untuk mengetahui hadis maudhu’
Selain kaidah- kaidah yang rumit dalam rangka mengetahui hadis shahih, hasan dan dha’if, para ahli hadis juga meletakkan kaidah-kaidah untuk mengetahui hadis yang maudhu’. Mereka menyebutkan tanda-tanda kepalsuan baik dalam sanad maupun dalam matan.
[1] M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, (Jakarta : Gaung Persada Press, 2008), hlm. 194
[2] Ibid.,hlm. 194-195
[3] Ibid., hlm. 197